CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Senin, 20 Juni 2011

Jus Kacang Hijau di 48 Jam Penerbangan SBY



Kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Swiss dan Jepang menempuh rute yang sangat panjang. Total waktu yang dilalui adalah 48 jam penerbangan. Untungnya, ada es kacang hijau yang segarnya mujarab memulihkan tenaga.

Presiden beserta rombongan berangkat pada hari Senin (13/6/2011) pukul 08.00 WIB dan tiba di Tanah Air pada Minggu (19/6/2011) dinihari. Rute yang ditempuh adalah Jakarta-Dubai (transit)-Jenewa-New Delhi (transit)-Tokyo-Jakarta.

Lelah tentu saja terasa. Apalagi agenda kegiatan Kepala Negara cukup padat. Di Jenewa, SBY bicara di depan konferensi buruh internasional dan bertemu dengan beberapa pejabat utama PBB. Sementara di Jepang, SBY bertemu dengan kaisar Akihito, PM Naoto Kan dan memberikan bantuan bagi korban bencana gempa dan tsunami di Kesennuma, Miyagi.

Tapi ada satu yang membuat rasa lelah itu hilang. Jus kacang hijau. Ya, es kacang hijau yang ada di pesawat Garuda Indonesia ini langka. Anda tak akan menemukannya di rute penerbangan reguler maskapai penerbangan nasional tersebut selain di pesawat kepresidenan yang dinaiki presiden.

Minuman berwarna hijau mudah pekat, rasanya sangat menyegarkan. Manisnya terasa pas di lidah.

Ratih, salah seorang pramugari bercerita, resep khas es kacang hijau ini ditemukan oleh seorang pramugara. Awalnya hanya coba-coba, namun ternyata banyak penumpang yang ketagihan.

Karena daya tahannya yang tidak lama dan proses pembuatannya yang tidak mudah, es kacang hijau ini terbatas jumlahnya. Tak heran, saat penerbangan dari Swiss menuju New Delhi, es kacang hijau ini cepat habis. Padahal banyak penumpang yang menanyakannya.

Kemudian, Pihak Garuda Indonesia menitipkan 'menu' khusus tersebut pada penerbangan lain dari Jakarta ke New Delhi. Pesawat kepresidenan saat itu sedang transit di ibukota India tersebut.

Hasilnya, es kacang hijau bisa dinikmati kembali dalam penerbangan dari India, Jepang, hingga Jakarta.

"Segarnya....," kata salah seorang staf presiden.


(DetikNews)

Angkutan Jamaah Haji, Tak Lagi Monopoli Garuda


Maskapai Batavia Air bisa turut menentukan besaran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2011. Pihak Batavia Air sudah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Agama terkait kesanggupan menyediakan jasa pengangkutan jamaah haji dengan biaya murah.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Chaerun Nisa, mengatakan Batavia Air sudah menyatakan kesanggupan melayani jamaah haji dengan biaya yang lebih murah dibandingkan maskapai Garuda Indonesia. "Memang belum mengajukan harganya berapa, tapi Batavia memang sanggup lebih murah," kata Chaerun Nisa, Ahad (19/6).

Menurut Nisa, selama ini, jasa penerbangan jamaah haji hanya dilayani oleh Saudi Arabia Airlines dan Garuda Indonesia. Dominasi kedua maskapai tersebut membuat komponen biaya penerbangan haji menjadi suatu hal yang sulit dikoreksi. "Karena itu sudah sejak lama kita ingin ada maskapai lain yang bisa ikut," ujarnya.

Walaupun demikian, penentuan maskapai mana yang akan digunakan untuk penerbangan jamaah haji, sepenuhnya berada di tangan Kementerian Agama. Usulan dari Kementerian Agama itulah yang kemudian akan mendapatkan penilaian dari DPR. Apabila Batavia berhasil meyakinkan Kementerian Agama untuk bisa turut melayani penerbangan haji, Nisa yakin komponen biaya penerbangan haji akan turun.

Nisa mengatakan, tahun lalu sebenarnya sudah ada dua maskapai nasional selain Garuda Indonesia yang mengajukan diri melayani penerbangan haji. Kedua maskapai tersebut adalah Lion Air dan Batavia Air. Namun kedua maskapai tersebut tidak jadi ikut melayani penerbangan haji lantaran mengundurkan diri (Lion Air) dan tidak memenuhi syarat yang ditentukan Kementerian Agama (Batavia Air).

Ihwal harga yang ditawarkan, politisi wanita asal Partai Golkar ini menyebutkan, ada selisih sekitar 200 dolar AS per jamaah. Perkiraan selisih harga tersebut diperoleh dari penawaran yang disampaikan Lion Air dan Batavia Air tahun lalu. Garuda menawarkan 1.800 dollar AS sedangkan Batavia dan Lion 1.600 dolar AS.

Namun demikian, Chaerun Nisa belum bisa memastikan biaya penerbangan haji untuk tahun ini. Baik Garuda Indonesia maupun Batavia Air sama-sama belum menawarkan harga yang spesifik. "Tapi kemungkinan selisihnya hampir sama dengan tahun lalu," pungkasnya.


(Republika Online)

Bisnis Catering Angkutan Udara Kebanjiran Order



Permintaan paket makanan siap saji melalui catering khusus angkutan udara terus menunjukan tren kenaikan. Hal ini sejalan dengan tingginya volume penerbangan domestik maupun internasional di Indonesia. "Selama 6 bulan trennya naik, secara umum penerbangan membaik, airlines bertambah, rute dalam negeri maupun internasional bertambah, trennya domestik tumbuh pesat," kata Direktur PT Purantara Mitra Angkasa Dua A. Sumardi kepada detikFinance, Minggu (19/6/2011). Sumardi mengatakan permintaan catering udara kedepannya akan terus menjanjikan. Meskipuan ia mengakui volume jumlah penerbangan tak selamanya linier dengan permintaan catering angkutan udara, Ia mencatat saat ini terjadi tren maskapai-maskapai udara yang berkonsep berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) turut menopang permintaan catering. Padahal sebelumnya maskapai LCC umumnya tak menyediakan penjualan makanan apalagi memberikan cuma-cuma. "Untuk maskapai LCC mereka punya policy sendiri, mereka juga ada makanan diatas pesawat tetapi dijual, namanya LCC sales on board, trennya memang seperti itu,"jelas Sumardi. Sebagai pemain baru di dunia catering angkutan udara, Purantara kini melayani catering 3-4 maskapai penerbangan udara domestik maupun internasional. Meski masih memiliki pangsa pasar dalam jumlah kecil, Purantara yakin bisnis ini akan terus berkembang. "Bisnis ini rasanya menjanjikan ada ruang itu, jumlah rute terus bertambah," katanya. Dikatakannya bisnis yang menggiurkan ini, tak terlepas dari persaingan. Misalnya ia mencontohkan pemain catering angkutan udara sudah merambah di luar dari lingkungan bandara. Bahkan kata dia, banyak maskapai yang lebih memilih memesan catering dari luar bandara karena dianggap harganya lebih miring. "Catering yang sekarang ini internasinal regulasinya mungkin juga belum transparan, banyak airlines yang bisa mengambil dari catering yang disediakan dari luar bandara," katanya. Sumardi menambahkan saat ini di kawasan Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, saja ada 4-5 pemain catering udara. Dua diantaranya sudah memiliki standar internasional seperti ISO 9000 dan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Para maskapai yang mengedepankan full service biasanya akan memesan kepada catering yang sudah berstandar internasional. "Cuma dua yang berstandar internasioal Purantara dan anak usaha Garuda. Adanya standar ISO dan lainnya itu yang menyebabkan (catering) lebih mahal," jelasnya.


(Detik Finance)