CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Senin, 11 Juli 2011

PT Angkasa Pura II Pantau Harga Tiket



PT Angkasa Pura II Bandara Depati Amir sudah antisipasi untuk harga tiket pesawat pada musim peak season.

Untuk harga tiket reguler mengacu pada KM Nomor: 26 Tahun 2010, dimana ada batasan harga tiket pesawat Pangkalpinang-Jakarta, ketentuan batas atas Rp 958.000.

"Kita tetap monitor, untuk harga tiket pesawat tersebut. Apabila ada yang melampaui batas atas maka airline akan diberikan sanksi," jelas Agus Maulana Kadiv Operasi PT Angkasa Pura II Bandara Depati Amir, ditemui bangkapos.com, Kamis (07/07/2011).

Dikatakan Agus, bahwa harga tiket batas atas itu untuk kelas ekonomi Rp 958.000. Sedangkan untuk tujuan Pangkalpinang- Palembang Rp 750.000. Akan tetapi berbeda untuk kelas bisnis

"Kalau untuk kelas ekonomi ada aturan batas atasnya," ungkap Agus.

Namun menurut Agus, sampai saat ini untuk harga tiket masih di bawah batas atas Rp 958.000.

Apabila ada yang melebihi harga tiket batas atas, maka Dirjend Perhubungan Udara yang akan memberikan sanksinya.

 

(Tribunnews)




Support by :

Armada F-15 Jepang Dilarang Terbang



Kementerian Pertahanan Jepang melarang terbang semua armada pesawat tempur F-15 Eagle negara itu, Rabu (6/7). Keputusan itu diambil setelah satu pesawat F-15J jatuh secara misterius di Laut China Timur, sehari sebelumnya.

Pesawat tempur yang hilang tersebut tinggal landas dari pangkalan udara Naha di Okinawa, Jepang, Selasa pagi, untuk menjalani latihan tempur bersama tiga pesawat lain. Sekitar pukul 10.33, pilot Mayor Yuji Kawakubo (37) mengirim sinyal tanda bahaya dan hilang dari radar di titik berjarak 180 kilometer sebelah barat laut kota Naha, Okinawa.

Kawakubo sendiri hingga berita ini diturunkan masih belum ditemukan. Militer Jepang mengerahkan tak kurang dari enam kapal perang dan 13 pesawat militer, ditambah tiga kapal patroli penjaga laut, untuk mencari Kawakubo di perairan Laut China Timur.

"Sampai saat ini kami masih menyelidiki detail kecelakaan ini dan melakukan segala daya upaya untuk mencari pilot yang hilang. Kami akan terus memberikan kabar terbaru jika ada perkembangan," tutur Kepala Staf Pasukan Bela Diri Udara (ASDF) Jepang Shigeru Iwasaki, seperti dikutip The Japan Times.

Salah satu pesawat pencari menemukan jejak tumpahan minyak dan beberapa bagian pesawat, termasuk bagian ekor pesawat jet tersebut, di laut. "Kami menemukan beberapa bagian pesawat, tetapi pesawatnya sendiri belum ditemukan," ujar juru bicara ASDF.

Belum diketahui apakah Kawakubo sempat menggunakan kursi pelontar untuk keluar dari pesawat sebelum pesawat itu jatuh ke laut.

Semua armada F-15 Jepang dilarang terbang sampai penyebab jatuhnya pesawat tersebut diketahui. Jepang memiliki 202 pesawat F-15 dan merupakan pengguna terbesar pesawat tempur tersebut di luar negara asalnya, Amerika Serikat.

Jepang memproduksi sendiri pesawat-pesawat tersebut di bawah lisensi yang diberikan kepada Mitsubishi Heavy Industries. Saat ini, Jepang sedang mencari pesawat baru untuk menggantikan armada F-15 yang sudah mulai menua.

AS sendiri juga berencana menggantikan armada F-15-nya dengan pesawat-pesawat yang lebih modern, seperti F-35 Lightning II dan F-22 Raptor. Meski demikian, pesawat-pesawat terbaru tersebut bukannya tanpa masalah.

Hingga saat ini, Angkatan Udara AS masih melarang terbang semua armada F-22 milik AS. Pesawat tempur termodern di dunia itu dilarang terbang sejak 3 Mei karena ditengarai bermasalah pada sistem pasokan oksigen untuk pilot.

Keputusan itu diambil AU AS setelah terjadi serentetan insiden, yang melibatkan pesawat berharga 411 juta dollar AS per unit ini. Salah satu insiden terjadi di Alaska saat sebuah F-22 menyerempet pucuk-pucuk pepohonan sebelum mendarat. Saat diperiksa, pilot pesawat itu mengaku sama sekali lupa telah menyerempet pohon, yang menunjukkan ia kemungkinan menderita hipoksia atau kekurangan oksigen.


(Kompas)



Support by :

Pesawat Kargo NATO Jatuh, Sembilan Tewas



Pesawat kargo yang mengangkut 18 ton suplai logistik NATO mengalami musibah di pegunungan Shakar Dara, Afghanistan, Selasa malam waktu setempat (5/7) atau dini hari kemarin WIB (6/7). Begitu menyentuh tanah, pesawat tersebut langsung meledak dan terbakar. Akibatnya, sembilan kru pesawat berbendera Azerbaijan itu tewas seketika.

Militer Afghanistan telah berhasil menemukan bangkai pesawat di perbukitan terjal tidak jauh dari Kota Kabul kemarin  pagi (6/7). Tak ditemukan tanda-tanda kehidupan di lokasi musibah. "Tim kami sudah melakukan evakuasi. Tidak ada yang selamat," kata Nangyalai Qalatwal, jubir Kementerian Transportasi Afghanistan. Proses identifikasi diperkirakan butuh waktu lama karena tubuh para korban hangus terbakar.

Begitu tiba di lokasi, polisi dan pejabat pemerintah yang menerima laporan dari warga setempat itu tidak lagi bisa mengenali pesawat. Apalagi, penumpang dan muatan yang dibawa. Seluruh badan pesawat hangus terbakar dan sudah menjadi puing-puing. Serpihan pesawat pun berserakan di perbukitan setinggi sekitar 3.800 meter di atas permukaan laut tersebut.

Menurut Qalatwal, pesawat nahas itu bertolak dari Kota Baku sekitar pukul 21.26 waktu setempat (sekitar pukul 23.26 WIB). Saat itu, pesawat mengangkut logistik NATO dengan tujuan pangkalan militer Bagram di utara ibu kota Afghanistan. Pesawat kargo milik maskapai Silk Way itu membawa sembilan kru. Seluruhnya warga Azerbaijan.

Seorang jubir NATO di Afghanistan mengatakan bahwa pesawat buatan Rusia jenis Ilyushin 76 (IL-76) itu memang disewa dari maskapai komersial. Pada pukul 01.40 dini hari waktu setempat, pesawat tersebut menghilang dari radar. "Petugas di menara kendali Afghanistan sempat melihat sinar lampu di perbukitan yang berjarak 25 kilometer dari bandara sebelum menerima laporan kecelakaan," terang jubir pemerintah setempat.

Kedubes Azerbaijan di Pakistan kemarin membenarkan berita duka tersebut. Namun, sampai sekarang, penyebab kecelakaan tersebut masih belum diketahui dengan pasti. Pemerintah setempat telah meminta bantuan NATO untuk melakukan investigasi. "Yang pasti, saat kecelakaan terjadi, cuaca sangat cerah dan tidak sedang terjadi konflik senjata di sana," terang Qalatwal.


(JPNN.com)



Support by :