CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Minggu, 04 November 2012

Inilah 7 Fakta Unik Seputar Sperma




Setiap ejakulasi seorang pria bisa menghasilkan 200 juta sel sperma. Meski begitu, cuma sel-sel sperma berkualitas prima yang mampu membuahi sel telur. Seberapa jauh Anda mengenal sel sperma? Kenali 7 fakta unik berikut ini.


1. Makanan berpengaruh

Ingin memiliki sel sperma yang trengginas atau perenang yang santai? Beberapa jenis makanan bisa memengaruhi kuantitas dan kualitas sperma. Rajin mengasup ikan yang kaya akan asam lemak DHA diketahui bisa membuat sperma berenang dengan lincah dan memiliki fungsi yang baik.

Untuk pria yang mulai berusia lanjut, pola makan tinggi antioksidan atau multivitamin diketahui mencegah kerusakan DNA sperma. Vitamin E, zinc, dan folat juga diketahui berpengaruh positif bagi kualitas sperma.

2. Pria maskulin tak berarti spermanya hebat

Kaum wanita memang mudah tertarik pada pria yang bersuara berat dan maskulin. Namun, ternyata pria yang tampak maskulin itu memiliki kualitas sperma yang lebih rendah dibanding pria yang bersuara lebih tinggi. Konsentrasi sperma bersuara berat juga lebih sedikit.

3. Bentuknya aneh

Sperma sering digambarkan memiliki bentuk kepala oval dengan semacam badan dan ekor yang panjang. Sayangnya, hanya sepertiga pria yang memiliki bentuk sperma "normal", yang lainnya berbentuk aneh atau lucu.

Menurut Dr Craig Niederberger, pakar fertilititas, kelainan pada bentuk sperma bisa terjadi pada tiga bagian, yakni kepala, bagian ekor, atau kombinasi. Sperma yang rusak bisa memiliki dua kepala, berukuran kepala kecil atau kebesaran, berleher bengkok, atau ekornya banyak.

4. Sperma hewan lebih aneh

Ternyata sel sperma hewan jauh lebih aneh daripada sperma manusia. Bukannya berenang sendiri, sperma hewan berenang berkelompok, berpasangan, atau bahkan membentuk rantai yang terdiri dari ribuan sperma.

5. Ditemukan oleh ilmuwan Belanda

Sebelum tahun 1677 sperma tidak pernah diketahui. Sperma baru dikenal setelah ilmuwan Belanda penemu mikroskop, Antony van Leeuwenhoek, melaporkan melihat molekul mirip belut dari contoh air maninya. "Tubuh molekul itu bulat, tetapi tampak tumpul di depan dan memiliki ekor yang panjang," tulis Leeuwenhoek dalam laporannya.

6. Banyak salah paham

Antony van Leeuwenhoek memang berhasil mengetahui adanya sel dalam cairan mani, tetapi ia tidak paham bagaimana proses pembuahan terjadi. Pada tahun 1600-an, para ilmuwan percaya bahwa manusia dibentuk dari lengkungan di dalam sel telur atau sel sperma. Mereka juga mengklaim bisa melihat bakal manusia berukuran kecil di dalam kepala sel sperma. Baru pada tahun 1879 teori pembuahan diketahui.

7. Dibantu progesteron

Sel sperma memang perenang yang ulung, tetapi mereka tetap perlu bantuan untuk membuahi sel telur. Hormon progesteron yang diproduksi di tubuh wanita akan membantu sperma menggerakkan ekornya untuk berenang ke membran sel telur. Protein dalam membran sel telur bertugas menerima sinyal hormonal tersebut.


Sumber : LiveScience

Fakta .... Makin Banyak Pria Tak Punya Sperma



Penyebab terbesar kemandulan pada pria adalah kelainan sperma yang cukup banyak jenisnya. Salah satunya adalah azoospermia atau cairan mani tidak mengandung sel sperma sama sekali. Jumlah pria yang mengalami kelainan ini makin banyak jumlahnya.


Menurut Prof Arief Boediono, Direktur Laboratorium Embriologi Klinik Morula IVF Jakarta, diperlukan sekitar 20 juta sel sperma untuk membuahi sel telur.

"Saat ini semakin banyak pria yang sel spermanya kurang, bahkan tidak ada. Di Jakarta, pria yang mengalami gangguan itu sangat banyak," katanya dalam acara media edukasi bertajuk "Teknologi Mutakhir Optimalkan Program Bayi Tabung" di Klinik Morula IVF Jakarta, Rabu (31/10/2012).

Di Klinik Morula IVF saja, hampir 6 persen pria yang melakukan program bayi tabung menderita azoospermia. Belum lagi pria yang mengalami kelainan bentuk sperma dan kemampuan gerak atau motilitas.

Ditambahkan oleh dr Ivan Sini, SpOG, gangguan pada sperma sebenarnya juga ditemui pada populasi pria di banyak negara. "Gejala ini disebut juga dengan declaining male syndrome," katanya dalam kesempatan yang sama.

Penurunan kualitas dan jumlah sperma di dunia, menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, sudah terlihat mulai tahun 1930-an. Perubahan gaya hidup, tingginya tingkat polusi, dan stres diduga berpengaruh pada kesehatan sperma.

"Kalau dulu menurut standar WHO jumlah sperma yang dianggap normal adalah sekitar 20 juta per cc, maka sejak tahun 2010 sperma 15 juta per cc sudah dianggap normal. Sekitar 10 tahun lagi bisa-bisa standar normalnya berkurang," kata Ivan, CEO Klinik Morula IVF.

Untuk menjaga kesuburan pria, Ivan menyarankan agar para calon ayah mulai memperhatikan gaya hidupnya. "Hindari rokok, alkohol, serta kurangi paparan polusi di sekitar kita," katanya.

Dengan kemajuan teknologi kedokteran, kini pria yang menderita gangguan sperma tetap punya harapan untuk menimang bayi. Salah satunya adalah teknik pengambilan sel sperma terseleksi untuk dilakukan pembuahan lewat program bayi tabung.

Sumber : kompas.com

Hati-hatilah ..... Empeng Bayi Bisa Jadi Sarang Kuman





 
Sebaiknya bayi tidak diperkenalkan kepada empeng karena penggunaan yang tidak higienis bisa menyebabkan empeng menjadi sarang kuman dan bakteri.


Para peneliti melaporkan mereka menemukan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan jamur di empeng yang dipakai oleh bayi dan balita.

Empeng juga bisa jadi media pertumbuhan lapisan tipis bakteri yang disebut biofilm, yang akan mengubah bakteri normal di mulut bayi. Biofilm ini memicu inflamasi dan berpotensi besar menyebabkan penyakit usus seperti kolik atau infeksi telinga.

Lebih parah lagi, tipe bakteri yang biasa ditemukan di empeng kotor diduga kuat juga berkaitan dengan penyakit jantung, sindrom metabolik, alergi, asma, dan penyakit autoimun.

Menurut Dr.Tom Glass, profesor ilmu forensik, patologi dan gigi dari Oklahoma State University, pori-pori plastik bisa menangkap jamur, bakteri, air dan sisa makanan sehingga menciptakan tempat yang ideal untuk pertumbuhan kuman dan bakteri.

Selain empeng, bakteri juga biasanya tumbuh pada alat orthodonti seperti pelindung mulut atlet, retainer, sampai gigi palsu.

Dalam penelitiannya Glass mengumpulkan 10 empeng milik anak-anak sehat yang sedang mengunjungi klinik dokter anak. Empeng itu kemudian di bawa di laboratorium yang didesain khusus sehingga bakteri dan kuman yang ada di empeng bisa tumbuh.

Setelah 24 dan 48 jam, para peneliti membandingkan pertumbuhan bakteri di laboratorium dengan di empeng yang sudah dipakai. Sekitar 10 empeng yang sudah dipakai terkontaminasi ringan dan 5 empeng terkontaminasi berat, dengan level bakteri mencapai 100 juta koloni unit pergram.

Para peneliti mengkultur 40 jenis bakteri dari 10 empeng yang sudah dipakai. Satu empeng terkontaminasi empat jenis Staphylococcus aureus.

Yang harus menjadi perhatian adalah banyak dari bakteri yang ditemukan di empeng itu banyak yang resisten pada antibiotik seperti penisilin dan methisilin. Dengan kata lain jika terinfeksi akan lebih sulit diatasi.

Glass tidak merekomendasikan orangtua untuk mengenalkan empeng supaya bayi mereka tenang.

"Setelah mengetahui hasil studi ini mengapa harus mengambil risiko? Harus dipahami bahwa empeng bisa menyebabkan penyakit, dalam jangka panjang berpotensi memicu diabetes atau pengerasan pembuluh darah," katanya.

Untuk mereka yang masih ingin menggunakan empeng, Glass menyarankan agar setiap harinya empeng direndam dalam cairan pembersih bakteri. Selain itu selalu sediakan lebih dari satu empeng bersih sehingga jika empeng terjatuh bisa langsung diberikan empeng bersih kepada bayi.

Ia juga menyarankan agar empeng diganti dengan yang baru setiap dua minggu sekali karena pori-pori dalam plastik empeng bisa meyimpan bakteri.

Meski begitu Dr.Ben Hoffman, direktur medis Childrens Safety Center mengatakan bahwa orangtua tidak perlu takut menggunakan empeng untuk bayi mereka selama kebersihannya dijaga.

Selain tidak higienis, sebenarnya penggunaan empeng pada bayi juga bisa memengaruhi lengkung rahang dan gigi anak. Kebiasaan memakai empeng sejak bayi juga bisa berlanjut sampai anak masuk usia sekolah.


Sumber : Healthday News