CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Minggu, 31 Maret 2013

Maunya Suami .

Illustrasi by: http://xoxohaneyko.blogspot.com

Setiap orang yang normal pasti ingin menikah dan punya anak. Setelah berkeluarga pasti masing-masing punya harapan dan kemauan. Sebagai suami, saya juga punya banyak maunya terhadap istri saya. Semoga ini bukan bentuk penindasan suami terhadap istri. Hehehe…

Saya maunya istri lebih banyak di rumah. Apakah tidak boleh bisnis atau bekerja? Boleh, tapi itu bukan prioritas. Waktunya lebih banyak untuk anak-anak dan berada di sisi saya saat saya di rumah. Bila mau bekerja atau bisnis silakan tapi di waktu-waktu sisa, bukan waktu yang utama. Tidak punya penghasilan dong? Tidak apa-apa semua kebutuhan dan permintaanmu saya penuhi.

Saya maunya istri mengembangkan kemampuannya dari rumah bukan dengan meninggalkan rumah. Saya tidak ingin istri saya terlalu lelah. Tugas menemani dan mendidik anak itu lebih penting dan memerlukan energi besar. Jangan kuras energimu, saya ingin kau selalu terlihat segar dan bugar.

Saya maunya istri itukonsultan buat saya. Saat saya ingin maju, ia mensupport dan mendorong saya. Saat saya alpa atau salah, ia yang meluruskan tanpa rasa takut sedikitpun. Saat saya membawa harta yang haram, ia menolak dan berani melawanku.

Saya maunya istri itu selalu menemani saya. Walau tak harus selalu bersama, ia selalu menemani lewat telepon dan BB. Rayuanmu, candaanmu itu selalu saya tunggu. Hati inipun terhibur saat kau kirim kata-kata "I Love You" atau "I Miss You". Ketenanganpun menjalar dalam hatiku saat kau bercerita tentang kegiatanmu.

Saya maunya istri itu penyambung silaturrahim. Ia selalu menjaga komunikasi dengan orang tua dan mertuaku. Ia selalu bercanda dengan saudaraku dan juga ipar-iparku. Bila orang tua, mertua dan para saudara serta ipar memerlukan bantuan dengan ringan tangan ia menawarkan diri untuk membantu.

Saya maunya istri itu sahabat abadi. Saya ingin selalu bersamanya di kehidupan dunia maupun setelah dunia. Oleh karena itu, semakin hari saya ingin kau selalu mengajakku untuk selalu mendekat kepada-Nya. Saya ingin selama-lamanya kau ada di hatiku, di dadaku dan juga di sebelahku.

Maaf istriku kalau saya banyak maunya padahal belum banyak yang bisa saya berikan kepadamu. Pokoke, I Love You…

Salam SuksesMulia!

By

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/maunya-suami/

Ingin Sehat dan Panjang Umur? Perbanyaklah Teman !


Ilustrasi

Penderita kanker payudara, sebut saja Ny. S, usia masih muda. Usia 33 tahun, cantik, punya anak dua orang. Dirawat beberapa minggu yang lalu karena keluhan mual, muntah, lemah, tidak ada nafsu makan, dan tidak dapat tidur. Sebelum dirawat, penderita baru saja mendapatkan kemo terapi di suatu rumah sakit di luar kota.

Setelah 2-3 hari dirawat, saya  melihat belum banyak perubahan pada pasien. Keluhan-keluhannya seperti tidak  cepat membaik, dan suatu hal yang agak lain saya lihat adalah pasien ini seperti mengurung diri. Saya tidak melihat teman-temannya yang berkunjung, hanya ada keluarga dekat seperti suami, dan orang tuanya.

"Mana teman-temannya?" tanya saya suatu waktu saat visite.

"Ada lah Pak, tapi saya tidak memberitahu bahwa saya dirawat, bahkan teman-teman saya tidak ada yang tahu saya sakit begini, saya malu dan tidak percaya diri kalau mereka tahu dokter", jawab pasien.

"Ya, saya dapat memakluminya, ada beberapa pasien seperti itu, tetapi sampai kapan Anda bisa menutupinya, suatu saat mereka pasti tahu juga. Dan,  teman itu mempunyai pengaruh positif terhadap kesehatan kita. Hubungan-hubungan sehat yang Anda jalin dengan teman-teman Anda, apalagi pada waktu Anda sakit akan mambantu penyembuhan Anda", saya mencoba menjelaskan kepada pasien.

"Apa betul demikian dokter?" tanya pasien lagi.

Sebelum saya menjawab, setelah dia diam sebentar, kelihatan seperti menarik nafas dalam. "Barangkali dokter benar juga, toh saya sekarang tidak lebih baik, saya tidak punya teman untuk mengadu, mengeluh, saya tidak punya teman untuk dapat banyak bercerita tentang penyakit saya, kecemasan, kekhawatiran, ketakutan saya, dan dengan keadaan begini, saya sekarang malah merasa lebih tertekan dokter", sambung pasien.

Beberapa hari setelah itu, waktu visite, suasana di kamar pasien sudah mulai nampak berubah. Buah-buahan, bermacam makanan ringan kelihatan memenuhi mejamya, dan nampak juga beberapa buah karangan bunga di atasnya.

Melihat itu, secara spontan saya bertanya," kelihatannya lain sekarang?"

"Ya dokter, teman-teman sebagian sudah pada ke sini, ini semua dari mereka", urai pasien sambil senyum.

"Ya kan, teman itu menyembuhkan?"

"Ya dokter, saya merasa lebih lega sekarang, saya juga merasa lebih sehat. Saya sekarang punya banyak teman yang mau mendengar, tempat saya mengadu, mencurahkan isi hati, perasaan saya dokter."

Dari hari ke hari suasana di kamar itu saya lihat semakin berubah. Suara gelak, canda, dan tawa semakin riuh saya dengar. Perawat saya pun mulai mengeluh, "ramai sekali dok sekarang di sana, mereka tidak peduli lagi dengan jam kunjungan, jam viste pun masih banyak temannya yang berkunjung", ungkap salah seorang perawat itu. "Nggak apa-apa, biarkan saja, daripada dia tambah sakit kesepian, itu mungkin lebih baik untuk dia, teman-temannya itu dapat menjadi obat bagi dia", jawab saya.

Kemudian, waktu saya visite, memang beberapa temannya masih saya lihat di sana. Salah seorang temannya tampak lagi memijit pundaknya, yang satu lagi sedang mengupaskan apel untuknya, dan yang lain seperti mau menyuapkan oleh-oleh yang dibawanya.  Dalam hati saya bergumam......."hmmmm,  teman-temannya betul-betul menjadi obat baginya."

Tidak lama saya visite, saya tidak ingin mengganggu suasana seperti itu, saya yakin teman-temannya ini sekarang barangkali lebih berarti dibandingkan kunjungan saya. Apalagi, saya lihat pasien ini kelihatannya sudah jauh lebih baik, keluhan-keluhannya sudah membaik, nafsu makannya juga sudah pulih kembali dan tidur pun sudah enak.

Lalu, melihat apa yang dialami pasien ini, saya teringat beberapa penelitian terkait pengaruh hubungan positif antara teman, dan kesehatan seseorang. Teman tidak hanya memberikan efek postif penyembuhan, bahkan juga menurunkan angka kematian dan meningkatkan harapan hidup seseorang. Mempunyai teman dapat mengurangi stress, ketakutan, dan kecemasan. Dukungan sosial yang didapatkan dari teman, menurut penelitian dapat menurunkan debaran jantung, tekanan darah, dan memperbaiki imunitas seseorang.

Penelitian yang dilakukan di Swedia pada laki-laki paruh baya menunjukkan bahwa mempunyai sedikit teman atau tidak ada teman akrab,  dekat, meningkatkan risiko serangan jantun pertama kali sebesar 50 persen. Studi yang dilakukan di Buffalo, New York pada tahun 2009 mendapatkan bahwa mereka yang paling sedikit memperoleh dukungan sosial paling banyak menderita penyakit jantung, kecemasan, dan depresi. Penelitian pada penderita kanker payudara menunjukkan bahwa mereka yang mendapatkan dukungan sosial hidup dua kali lebih lama dibandingkan yang tidak.

Jadi, teman tidak hanya untuk sekedar bersenda gurau, bercanda, tetapi mempuyai pengaruh positif terhadap kesehatan fisik, emosional, dan bahkan spiritual. Dan seperti yang dialami pasien kanker di atas, teman dapat menyehatkan, membantu Anda menghadapi taruma seperti penyakit. Karena itu, perbanyaklah teman. Semakin banyak Anda mempunyainya, semakin dekat hubungan Anda, maka semakin besar pula dukungan yang akan Anda peroleh.

Penulis :
Dr. Irsyal Rusad. Sp.Pd

Sumber: kompas.com

Perut Buncit? Jangan Salahkan Usia Anda



Usia sering menjadi biang kerok sesuatu. Dengan alasan usia yang sudah tua, menjadi pembenaran bagi kita untuk hanya duduk di rumah, tak perlu lagi aktif bekerja. Umur juga sering jadi dalih untuk menerima begitu saja apa yang Anda anggap sewaktu masih muda sebagai penyakit. Setelah berangsur tua tidak demikian lagi. Anda sakit pinggang, sakit lutut, hipertensi, diabetes, jantung, dianggap normal bila keluhan penyakit itu muncul setelah Anda beranjak tua. Bahkan, karena usia dianggap sudah tua, sah-sah saja seseorang kemudian meninggal.

Perut buncit,  yang diketahui sebagai faktor risiko beberapa penyakit seperti hipertensi, jantung, stroke, diabetes mellitus, bahkan keganasan,  juga dianggap tidak bermasalah, normal-normal saja bila terjadi pada seseorang yang umurnya sudah beranjak tua. Padahal, pada anak-anak perut buncit sekarang bukanlah sesuatu yang aneh lagi. Dan lebih celaka lagi, banyak yang punya asumsi bahwa perut yang buncit itu dianggap sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari, seiring bertambahnya usia mereka.

Sesuai fenomena di atas, banyak pasien saya yang menganggap dan menyalahkan perut mereka yang buncit itu akibat usia mereka yang semakin tua. Misalnya Tuan A. Laki-laki usia 52 tahun, datang konsultasi dengan keluhan dada panas dan perut menyesak, terutama setelah makan. Waktu saya beritahu bahwa keluhannya ada kaitannya dengan perutnya yang buncit itu, pasien seperti tidak percaya, dan merasa bahwa perutnya yang besar itu adalah normal karena usianya yang dia anggap sudah mulai tua.

Pasien lain, seorang wanita berusia 55 tahun dengan keluhan nyeri pada salah satu lututnya. Waktu saya jelaskan bahwa salah satu faktor risiko nyeri pada lututnya ada hubungan dengan kegemukan dan perutnya yang besar, juga beranggapan demikian. "Gimana lagi dokter,  umur saya kan sudah cukup tua", kata pasien

Seperti diketahui, umur memang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya perut buncit. Semakin tua Anda, maka kemungkinan perut Anda semakin buncit kian besar pula. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertanyaan yang sering diajukan pasien saya. Salah satu penyebabnya adalah berkaitan dengan menurunnya tingkat metabolisme tubuh kita seiring dengan menuanya kita. Metabolisme yang menurun ini disebakan oleh berkurangnya massa otot, perubahan hormonal, dan kebutuhan kalori organ internal kita yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya usai kita.

Perubahan hormonal yang terjadi ini, dapat meningkatkan risiko seseorang menjadi lebih gemuk. Penurunan hormon testosteron dan DHEA pada laki-laki, dan hormon estrogen pada wanita pada wanita dapat menurunkan massa otot dan penumpukan lemak di sekitar perut. Tetapi, itu tidak berarti bahwa kita tidak dapat mempertahan kebidupan yang sehat dan menjaga keseimbangan hormonal dengan semakin tuanya kita. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan masaa otot akibat bertambahnya umur, sebagian besar dibawah kendali kita. Semakin sehat makanan kita, semakin sehat kita hidup, dan semakin sering kita bergerak, olahraga, maka semakin seimbang hormon dan semakin baik metabolisme tubuh kita.

Kemudian, umur hanyalah salah satu faktor risiko perut Anda semakin buncit. Massa otot yang semakin berkurang apalagi aktifitas fisik Anda juga semakin menurun dan asupan  makanan Anda sama saja atau bahkan lebih banyak lagi merupakan faktor penting bertambahnya tumpukan lemak di sekitar perut Anda. Massa otot yang berkurang menyebabkan metabolisme tubuh menurun. Penurunan ini akan mengurangi kebutuhan rata-rata kalori kita. Jadi, bila kita tetap makan dengan porsi yang sama, sementara kebutuhan kalorinya menurun, penumpukan lemak itu akan tetap terjadi. Karena itu, sangat penting mempertahankan massa otot walau usia Anda bertambah. Seperti diketahui, jaringan  otot membakar kalori 3 kali lebih banyak dibandingkan jaringan  lemak.

Lalu, karena umur itu tidak dapat dikendalikan, yang dapat kita lakukan adalah mengatur masukan kalori dan mempertahankan aktivitas fisik yang cukup. Jadi, agar penumpukan lemak itu tidak terjadi, maka  Anda harus mengurangi masukan kalori harian Anda atau menaikkan kalori keluarannya. Masukan kalori dapat dikurangi dengan mengurangi asupan makanan yang mengandung kalori tinggi seperti gula, karbohidrat olahan, lemak jenuh, dan memperkecil takaran piring Anda, serta sebaliknya  memilih makanan yang banyak mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan.

Untuk meningkatkan keluaran kalori, dapat Anda lakukan dengan olahraga aerobik secara teratur, paling tidak 30-40 menit setiap hari, minimal 5 kali dalam seminggu. Dan, untuk meningkatkan massa otot Anda, lakukan olahraga peregangan, dan pembebanan ringan, 2-3 kali dalam seminggu. Insya Allah dengan memperhatikan asupan makanan Anda, olahraga yang Anda lakukan, ancaman perut buncit seiring dengan bertambahnya usia Anda, dapat dihindari.

Sumber: kompas.com