CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Jumat, 25 Oktober 2013

Celana Dalam "Ajaib" Bisa Menyaring Bau Kentut

Celana dalam dengan bahan khusus bisa menyaring bau kentut.

Sebuah produsen celana dalam bermerek Shreddies membuat produk inovatif berupa celana dalam yang mampu menyaring bau kentut. Produk ini mungkin akan menjadi solusi bagi mereka yang selalu bermasalah dengan bau kentut.

Gizmodo, Senin (21/10/2013), memberitakan bahwa celana dalam ini bisa membuat siapa pun kentut tanpa mengganggu orang lain yang ada di dekatnya dan tanpa perlu merasa baru saja menaruh sebuah "bom".

Celana dalam itu mampu menyaring kentut karena bahannya, bernama Zorflex. Bahan tersebut punya pori-pori banyak. Pori-pori itu memungkinkan bau diserap dan dinetralkan. Bahan ini mampu menetralkan bau kentut hingga 200 kali lebih kuat dari kentut biasa.

Rencananya, produsen celana dalam itu akan menjual produknya seharga sekitar Rp 400.000 untuk celana dalam pria model boxer. Sementara, celana dalam untuk wanita akan dijual dengan harga sekitar Rp 300.000.

Walau bisa menetralkan bau, tidak diungkapkan apakah celana dalam ini juga bisa meredam bunyi. Jadi, walau bisa jadi tak malu karena kentut yang bau, pemakai juga harus berhati-hati karena bunyi kentut masih bisa membuat malu.

Sumber

Payudara, Organ Perempuan yang Paling Cepat Menua


Ilustrasi payudara

Setiap manusia memiliki jam biologis yang hampir sama. Jam inilah yang mengatur kapan tubuh harus beristirahat, memerlukan makanan, atau kegiatan lainnya selama 24 jam.

Selain mengatur fungsi tubuh, jam biologis juga menerangkan umur kebanyakan jaringan manusia. Umur biologis ini membuka tirai bagaimana tubuh menua dan cara memperlambatnya.

Penemuan ini, menurut peneliti juga menyediakan pengetahuan penting terkait riset seputar kanker dan stem cell. Riset ini telah dimuat dalam jurnal Genome Biology.

Menurut pakar riset genetika manusia dan biostatistik, Steve Horvath dari University of California, Los Angeles, jam biologis dapat membantu untuk memahami apa yang mempercepat dan memperlambat proses penuaan.  

"Untuk melawan penuaan diperlukan cara mengukur yang objektif. Merupakan tantangan selama 4 tahun menyusun biomarker dalam tubuh manusia," terangnya.

Horvath dan timnya percaya, riset ini merupakan yang pertama mengindentifikasi mekanisme tubuh. Identifikasi ini membantu tubuh mengukur dengan akurat umur biologis dari berbagai tipe jaringan, organ, dan sel.

Dengan menggunakan perhitungan jam biologis, peneliti mengaku terkejut atas temuan yang diperoleh. Hasil kajian menunjukkan, jaringan payudara wanita menjadi tua lebih cepat dibanding yang lainnya dalam tubuh.

"Jaringan payudara yang sehat berumur 2-3 tahun lebih tua dibanding yang lainnya. Bila wanita terkena kanker payudara, maka jaringan di sekitarnya rata-rata berusia 12 tahun lebih tua dibanding lainya," kata Horvarth.  

Hasil ini sekaligus menjelaskan kenapa kanker payudara kerap terjadi pada wanita. Riset ini juga menemukan, jaringan tumor rata-rata lebih tua 36 tahun dibandingkan jaringan sehat. Hasil riset juga menjelaskan, kenapa umur menjadi faktor risiko utama kanker pada pria dan wanita.

Dalam riset ini, Horvath memusatkan perhatian pada metilasi, yaitu proses alami yang dapat menghambat kerja DNA. Riset menggunakan 8 ribu sampel DNA dari 51 tipe jaringan dan sel yang diambil dari seluruh tubuh.

Horvath memetakan bagaimana usia mempengaruhi metilasi DNA sejak lahir hingga usia 101 tahun. Diuji secara kronologis, jam biologis membuktikan keakuratannya.

"Hal ini mengejutkan, seseorang bisa mengembangkan jam dalam anatomi tubuhnya. Pendekatan ini berlaku untuk otak, jantung, liver, ginjal, dan kartilago. Semua dibandingkan dengan jaringan yang sama," kata Horvath.

Re: Gaji Anda Tak Akan Bertambah dengan Mengeluh

Sehat dan bahagia dengan olahraga

Siapa yang tidak tahu bahwa olahraga itu banyak manfaatnya? Pasien saya  yang sedang sakit pun, dan barangkali tidak pernah berolahraga sebelumnya, akan menganggukkan kepalanya tanda setuju bahwa olahraga berguna untuknya.

Ia tahu bahwa olahraga dapat mengurangi perutnya yang buncit itu, yang menjadi biang kerok penyakit yang dideritanya. Nah, kalau kepada pasien dianjurkan untuk berolahraga, apa dia mau? Pengalaman saya, hanya sebagian kecil mereka yang akhirnya mau melakukannya.

Seperti pasien di atas, kebanyakan kita juga begitu. Bukan main susahnya memulai olahraga apalagi mempertahankannya. Saya tak tahu berapa persen penduduk dewasa Indonesia yang aktif berolahraga, tetapi saya rasa sangat kecil sekali. Kegiatan-kegiatan olahraga yang dilaksanakan dalam event tertentu, seperti maraton, sepeda, jalan santai dan sebagainya hanya ramai waktu acara itu dilaksanakan. Setelah itu, sepeda, sepatu, dan aseoris olahraga lainnya lebih banyak digantung.

Di negara maju saja, seperti Amerika, 60 persen penduduk dewasanya tidak melakukan olahraga secara teratur, 55 juta bahkan tidak berolahraga sama sama sekali. Sementara selama 4 jam rata-rata mereka duduk di depan televisi.

Nah, kita tahu bahwa olahraga sangat baik untuk kesehatan. Kita tahu olahraga membuat jantung lebih bugar, otot dan tulang makin kuat dan tekanan darah turun. Olahraga juga mencegah diabetes, cacat di hari tua, tidur lebih nyenyak, dan dapat memperbaiki, memelihara otak dan  mood. Dan kita tahu lebih banyak lagi manfaat yang  dapat dipetik dari kegiatan olahraga. Tetapi, mengapa kita tetap memilih untuk tidak melakukannya?

Banyak alasan yang diberikan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mulai dari malas, capek, bosan, tidak punya peralatan, tidak ada waktu, dan sebagainya. Tetapi. yang paling penting, menurut Jeffrey R dan Betty L dalam buku Age Smart, mengapa kita tidak mengerjakannya adalah bahwa kita menganggap olahraga itu hanya sebagai pilihan, yang boleh saja kita lakukan atau tidak.

Kita beranggapan bahwa olahraga adalah sesuatu di luar kegiatan rutin. Olahraga ditempatkan di luar jurnal keseharian. Akibatnya, mau olahraga atau tidak, kita secara tak sadar beranggapan bahwa itu tidak masalah, tidak ada akibat  buruknya.

Karena anggapan itu sudah terbenam dalam otak, maka otak pun merasa sudah menjadi nyaman untuk tetap larut dalam kebiasaan seperti itu.  Dan, sayang,  sebagian besar  kita baru sadar untuk melakukan aktivitas olahraga bila sudah sangat terlambat. Biasanya ketika penyakit atau cacat sudah mendera kita, ketika olahraga itu sendiri sudah menjadi beban bagi tubuh kita.

Oleh karena itu, anggapan bahwa olahraga itu sebagai pilihan harus dibuang. Sebaliknya jadikanlah olahraga itu sebagai bagian tak terpisahkan dari jurnal kegiatan sehari-hari.  Cattie Blacks, pebisnis dunia dan presiden Hearst Magazine, adalah sosok yang memperoleh manfaat besar dari olahraga. Pada saat ia berusia 60 tahun, kebanyakan orang mengira masih pantas untuk 40 tahun. Saat ditanya, mengapa bisa demikian? Ia menjawab "karena kebiasaan olahraga dilakukan secara teratur setiap hari".

Mengapa ia masih punya waktu untuk berolahraga di tengah-tengah kesibukannya? Cattie rupanya mengubah pikirannya tentang olahraga. Ia menghargai olahraga seperti janji-janji dan pertemuan yang harus dipenuhi. Sama seperti pertemuan yang ia jadwalkan, olahraga juga tercantum dalam buku hariannya.  Bahkan, kalau waktu itu adalah jadwal olahraganya, kemudian ada undangan pertemuan, Ia akan memprioritaskan olahraga dibandingkan pertemuan itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya pun melakukan hal yang sama. Olahraga secara teratur setiap hari paling tidak 30-40 menit. Di ruangan terbatas saya bisa jogging, berlari, olahraga peregangan dan sebagainya. Boleh dikatakan, tiada hari tanpa olahraga.  Ini baru bisa saya jalani pada saat saya beranggapan bahwa olahraga itu bukan suatu pilihan, tetapi suatu keharusan dalam keseharian.

Saya buat jadwal khusus untuk olahraga. Biasanya saya berolahraga beberapa jam menjelang praktek sore dan setelah  tidur siang beberapa menit sebelumnya. Alhamdulillah, disamping saya tahu manfaat olahraga secara teoritis, saya juga dapat merasakan dan menikmatinya.

Seperti diketahui, lamanya olahraga yang dianjurkan sesuai peneltian adalah minimal antara 30-40 menit, lima kali dalam seminggu. Jadi, ada hari tanpa kita harus olahraga. Dari waktu 30 menit olahraga, sebenarnya bisa juga dibagi menjadi interval 10-15 menit, dua-tiga kali dilakukan dalam sehari, cukup hanya tiga kali dalam seminggu.

Olahraga dengan frekuensi seperti ini memang masih memberikan manfaat yang sama. Tetapi ada sisi negatif  saya lihat, memilah-milah lamanya olahraga seperti ini membuat kita sangat sulit mempertahankan kontinuitasnya. Jadi, kalau kita misalnya sudah berolahraga 10-15 menit, kita berhenti, kemudian mau melanjutkannya lagi di hari yang sama, itu tidak mudah. Begitu juga bila dalam satu minggu ada hari tanpa olahraga. Contohnya 2-3 hari tidak olahraga, biasanya hari tanpa olahrga itu akan berlanjut terus. Karena itu, tetaplah berolahraga 30-40 menit dan tujuh hari dalam seminggu.

Olahraga itu memang susah, tidak hanya memulainya, apalagi mempertahankannya. Namun, dengan mengubah persepsi dan pikiran kita bahwa olahraga itu bukanlah pilihan yang dapat kita kerjakan atau tidak - tidak bisa sekarang, besok atau lain waktu juga boleh  - tetapi sebaliknya kita hargai sebagai kegiatan penting dalam kehidupan, seperti halnya sarapan pagi, maka Insya Allah olahraga itu akan menjadi kebutuhan. Jadikanlah olahraga sebagai bagian tidak terpisahkan dalam kegiatan seharian, agendakan olahrga itu dalam buku jurnal harian Anda.