CARA MUDAH BERBISNIS TIKET PESAWAT

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Apakah anda sudah siap untuk Bergabung??

Bergabung? silahkan klik disini

Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanker Payudara. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2011

Satu dari 10 Wanita Menderita Kanker Payudara



Dr. Samuel Haryono SpB Onk (K) bersama Prof. Eisuke Fukuma MD PhD mempraktikkan bedah di RS MRCC Siloam

Satu dari 10 wanita diperkirakan menderita kanker payudara, yang disebabkan oleh gaya hidup modern. Kanker payudara merupakan kanker kedua terbanyak di Indonesia, setelah kanker serviks.
Prof Tan Yah Yuen dari Singapura mengatakan, pendekatan baru operasi kanker payudara termasuk pengangkatan payudara dengan mempertahankan puting susu. Konservasi payudara ini dimungkinkan dengan bantuan pemeriksaan Sentinel Lymph Node, menggunakan gamma kamera SPECT yang bisa secara tepat melihat penyebaran sel kanker di kelenjar getah bening yang terjangkit saja. Fasilitas ini sudah tersedia di RS MRCCC Siloam Jakarta.
Hal ini terungkap dalam Simposium Penanganan Terkini Kanker Payudara, Hati dan Usus Besar. Acara ini diprakarsai RS MRCCC Siloam sebagai perwujudan nyata komitmen MRCCC Siloam memberikan pelayanan kesehatan yang baik untuk penanganan penyakit kanker. Jika ditangani dan diobati sejak dini, akan memberikan harapan hidup yang lebih baik. Disebutkan, deteksi dini pada kanker payudara termasuk screening dengan USG, mamografi, MRI payudara, biopsi, endoskopik breast surgery, image guided non surgical ablation untuk kanker ukuran kecil, perlu dilakukan untuk penanganan kanker sejak dini.
Simposium yang memberikan nilai tambah bagi praktisi kanker ini, menghadirkan sekitar 50 pakar kanker international, President World Gastroenterology Organization Prof. G.N.J Tytgat MD PhD dari Belanda; Prof. Harald J. Hoekstra MD, PhD - Profesor Surgical Oncology dari UNMCG Netherlands, dan Prof. Eisuke Fukuma MD PhD – Director of Breast Cancer, Kameda Medical Centre Jepang, dan pakar bedah kanker national Dr. Samuel Haryono SpB Onk (K).
Dalam simposium ini, ditampilkan juga Oncoplastic Surgery pada pasien kanker payudara oleh Dr. Samuel Haryono SpB Onk (K) bersama Prof. Eisuke Fukuma MD PhD, yg direlay secara live dari ruang operasi RS MRCCC untuk disaksikan 200 peserta dokter ahli bedah dan internist dari seluruh rumah sakit dan fakultas kedokteran dari seluruh Indonesia.
Hal lain yang diangkat sebagai topik dalam simposium dan workshop tiga hari ini adalah kanker hati dan usus besar.
Menurut Prof Pierce Chow, Asia Pasifik menanggung beban 70 persen dari seluruh insidens kanker hati (liver) dunia, disebabkan penyakit hepatitis viral kronis dan Hepatitis B (peradangan kronis pada jaringan hati karena disebabkan oleh virus). "Namun secara keseluruhan, hanya 5-15 persen dari pasien yang terdiagnosis menderita kanker hati dapat menjalani operasi pengangkatan kanker, karena adanya fungsi hati yang sudah menurun atau adanya sirosis hati," tambah dr Irsan Hasan.
Pada pasien kanker hati yang tidak bisa menjalani operasi pengangkatan kanker, dapat dilakukan teknik ablasi lokal (dengan Percutaneus Ethanol Injection [PEI], Microwave Coagulation Therapy [MCT], dan Radiofrekuency Ablation [RFA]). Yang dimaksud dengan Microwave Coagulation Therapy adalah memanaskan sel tumor hingga suhu 600 sehingga sel tumor tersebut mati.
"TACE (Trans Arterial Chemo Embolization) digunakan sebagai terapi tambahan pada penderita kanker hati yang bersifat minimal invasif. Tujuan dilakukan terapi ini adalah mengecilkan sel tumor, meningkatkan kualitas hidup dengan pemberian kemoterapi dan menutup pembuluh darah yang memberi makan sel tumor," ungkap dr. Soewandi A.H dari RS MRCCC Siloam Jakarta.
Pencegahan terjadinya kanker hati pada seseorang, yaitu dengan imunisasi rutin hepatitis B, pemeriksaan AFP, USG perut, diagnosis dini dan pengobatan dini hepatitis B. Dengan adanya diagnosis dini dan pengobatan dini hepatitis B, akan memperpanjang survival dan memungkinkan deteksi dini kanker hati. Kanker hati yang terdeteksi dini akan memiliki tingkat kesembuhan yang lebih tinggi.
Kanker Colorectal (usus besar) disebabkan antara lain: faktor keturunan (genetik), adanya riwayat sebelumnya pasien menderita tumor jinak pada usus besar, pasien yang menderita peradangan usus (Inflamantory Bowel Disease), selain itu diet dan paparan terhadap zat-zat tertentu memudahkan dalam timbulnya kanker pada seseorang.
"Semakin dini ditemukan jaringan kanker, kondisi ini memberikan hasil akhir yang lebih baik bagi pasien, serta menurunkan tingkat kematian pada pasien. Metode-metode yang digunakan untuk deteksi dini kanker usus besar, di luar biopsi, antara lain: endoskopi, chromoskopi, endoskopi autofluorescent, narrow band imaging, dan endomicroscopy," jelas Emer Prof GNJ Tytgat, President World Gastroenterology Organization dari Belanda.
"Terapi dari kanker usus besar ini adalah operasi terbuka, operasi laparoskopi (operasi dengan menggunakan fiber optik yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Operasi ini memungkinkan irisan pada kulit yang lebih sedikit dan tingkat perawatan di rumah sakit lebih singkat), kemoterapi, dan terapi target," kata dr Errawan R. Wiradisuria.
"Keberhasilan pengobatan dan terapi kanker tentunya ditopang olehalat kesehatan mutakhir. RS. MRCCC Siloam telah memiliki alat LINAC IX untuk radiotherapy patient kanker dengan tehnology IMRT, yang memungkinkan radiasi yang tepat sasaran pada sel kanker, ditunjang PET/CT sebagai teknologi mutakhir dalam mendeteksi kanker. Ini berperan besar dalam menentukan staging awal penyakit kanker serta evaluasi keberhasilan terapi (baik chemo, radiasi dan bedah). Hal lain, PET/ CT dapat juga untuk menilai kekambuhan / metastase ( penyebaran ) sel kanker dalam tubuh," demikian Dr Eko Purnomo SpKn dan Hanny Moniaga, CEO RS. MRCCC Siloam.


Sumber : KOMPAS.com -











Berpikir Positif Kunci Linda Menang Lawan Kanker


Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar


Apa yang terbersit dalam benak anda jika hasil diagnosa dokter menyatakan harapan hidup anda tinggal 40 persen karena kanker payudara ? Hal tersebut ternyata pernah dialami Linda Amalia Sari Gumelar, isteri Agum Gumelar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

"Jangan pernah berpikir negatif. Positif sajalah, karena segalanya akan menyehatkan kita. Banyak hikmah yang saya dapat"

Meski merasa sangat terpukul dan tidak menerima atas kenyataan pahit yang didapatnya, tetapi Linda berhasil mengalahkan kanker payudara dengan bermodalkan keinginan kuat dan tetap berpikir positif.
Tahun 1996 adalah awal mimpi buruk itu datang. Bermula dari rencana pergi menunaikan ibadah haji bersama sang suami tercinta, akhirnya dengan sangat menyesal niat itu harus dibatalkan. Mendadak Linda merasakan ada sesuatu yang aneh pada payudaranya.

Seketika itu juga, dia memutuskan untuk pergi berobat ditemani oleh dokter keluarga, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya di rumah sakit, Linda menjalani pemeriksaan USG, dan pihak dokter saat itu menemukan sesuatu yang tidak normal pada kedua payudaranya. Namun di situ Linda juga masih tidak berpikir ada suatu bahaya yang sedang mengancam dirinya. Keterangan tentang penyakit yang diidapnya akhirnya diketahui dari dokter keluarga yang saat itu turut mendampinginya.
"Pas tahu menderita kanker, barulah saya menangis. Saat itu saya hanya ingat anak. Saya enggak ingat diri saya kena kanker," ujarnya kepada Kompas Health, Kamis (22/6/2011)
Untuk memastikan kebenaran penyakitnya, Linda pun menjalani pemeriksaan mamografi. Dan hasilnya memang positif kanker payudara. "Saat itu saya cuma ditemani dokter keluarga. Jadi suami belum tahu. Saya tidak mau kasih tahu lewat telepon karena nanti malah bikin suasana panik," imbuhnya.
Tak terasa hampir seharian melakukan pemeriksaan, dan sore itu akhirnya Linda pulang ke rumah dengan beban yang cukup berat. Begitu sampai di rumah dan bertemu dengan Agum (suami), Linda menceritakan soal penyakit yang menimpanya. Dan seketika itu juga air matanya kembali tumpah.
"Pak Agum panik, terus telpon dokter keluarga. Dokter datang ke rumah dan ibu bapak saya juga. Di situ kami rapat, karena dokter minta hari Seninnya harus operasi. Saat itu dibilang untuk nyawa saya tinggal 40 persen dan penyakit 60 persen," tuturnya.
Mendengar pernyataan dokter terkait peluang untuk bisa hidup yang tinggal 40 persen, keluarga besar akhirnya memutuskan untuk melakukan pengobatan ke luar negeri. Belanda saat itu menjadi tempat tujuan untuk menjalani pengobatan. Dipilihnya Belanda juga bukan tanpa alasan. Pasalnya, secara tidak sengaja, Linda teringat akan sahabatnya Rima Melati, yang dulu juga pernah mengalami hal serupa sebagaimana yang dia alami pada saat itu.
"Pada saat ke Belanda itu bulan April. Itu habis musim dingin. Ditambah lagi musim paskah. Jadi nggak ada orang. Semua pada acara paskah," imbuhnya.
Walaupun beban yang ditanggungnya cukup berat, Linda tidak mau terlihat sedih di depan keluarganya. Ia berpikir, kesedihan tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Sehari sebelum tiba saatnya melakukan operasi, wanita yang juga aktif di organisasi keluarga TNI tersebut mengaku pasrah dan ikhlas.
Hanya satu permintaannya saat itu, yakni bisa melihat anak pertamanya lulus kuliah dan meraih gelar sarjana. Keikhlasan justru membuat suasana hatinya menjadi lebih tenang dan rileks.
Saatnya pun tiba. Sebelum masuk ruang operasi, sang suami (Agum) memberikan kata-kata penyemangat untuk sang isteri. "Komando ma", ucap Agum Gumelar seperti ditirukan Linda.
Operasi yang berjalan hampir 5 jam akhirnya selesai. Namun hasilnya belum dapat dipastikan saat itu juga. Pasalnya, harus menunggu putusan laboratorium sekitar seminggu lamanya.  Saat pengumuman hasil operasi dan pemeriksaan laboratorium tiba, ketegangan mulai terlihat. Linda mengaku saat itu adalah momen yang cukup menegangkan untuk dia dan keluarga.
"Pas sudah waktunya diumumkan, di mana ada pak Agum, adik ipar, dokter keluarga dan ibu, kita peganggan tangan sambil menunduk," ungkapnya.
"Dan pas datang dokter dari belanda, dokter mengatakan bahwa hasilnya diketahui tidak ada penyebaran dan masih stadium awal. Kita sudah kaya orang dihukum mati tapi hidup lagi. Mendengar putusan dokter, kami menangis dan berpelukan," lanjut Linda.
Pascaoperasi, secara bertahap Linda yang saat itu menjabat Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), terus melakukan kontrol terhadap penyakitnya. Mulai dari 3-6, bulan sekali dan setahun sekali. Hal tersebut dilakukannya selama 5 tahun.
"Itu pelajaran yang saya dapat dari perjalanan terkena kanker. Dan saya pikir apa yang mau Tuhan buat sangat mudah sebetulnya. Jangan pernah berpikir negatif. Positif sajalah, karena segalanya akan menyehatkan kita. Banyak hikmah yang saya dapat," tegasnya.
Linda juga tidak lupa berpesan kepada penderita kanker, untuk tetap bersemangat dan tidak putus asa. Ditambahkannya pula bahwa, jangan pernah anggap kanker sebagai vonis mati. "Kanker hanyalah sebuah kata. Tidak ada bedanya dengan kata-kata lain. Sekarang tentu kembali pada diri kita untuk mau yakin dan semangat," tandasnya.


Sumber : KOMPAS.com -